Thought via Path

Aku rindu momen ini..
Jalan gelap dan sepi setelah jam malam
Hembus angin kencang di selasar tubuh dan wajah
Suara udara yang ribut karena ditabrak percepatan kuda besiku
dan pikiran-pikiranku yang masih selalu berlari kepada kamu

Meski kali ini tanpa lagu-lagu berputar kencang di telinga – Read on Path.

Thought via Path

Kelar nonton dokumentari “Perfect Vagina” untuk ketiga kalinya.

Misoginis memang sudah jadi wabah sejak jaman prasejarah… Bagusnya, zaman sekarang yang semakin maju, banyak juga orang cerdas yang tahu cara perbaiki situasi yang ‘mapan’ ini.

Segala bentuk selangkangan kok ya dijadikan indikator menilai kesempurnaan orang..

Untuk berbagai alasan, pada dasarnya orang saking sosialnya memang suka mengurusi hidup orang lain.. dan biasa ngelunjak sampai ke taraf “menghakimi”.

Padahal normatif itu hampir bisa dikatakan karya fiktif mayoritas yang akarnya juga subjektif sih.

#tetibakebangundantakbisatidurlagi,makanyanontondokumentasiselangkangansajalah – Read on Path.

Thought via Path

Tidak banyak omong di sosial media tentang suatu isu tidak serta merta menandakan orang tersebut “ignorant”.

For some reason, there are some people focus to enjoy living their life instead of getting tickle by bluffy words in social media

#guelagibelajarngelancarinbahasainggris,jadikalausalahyasudahlah – Read on Path.

ERA DIGITAL, SOPAN SANTUN MENTAL

Tulisan ini saya dedikasikan kepada pihak-pihak pencari kerja yang memenuhi jagat maya. Tulisan ini merupakan sebuah bentuk pelampiasan (katarsis) sebab saya mau marah secara personal namun mengurungkan niat karena hanya akan menghabiskan energi yang sudah terlanjur banyak negatifnya ini.

Marah secara personal (langsung menegur atau menyerang pihak yang dimaksud tanpa membuatnya terekspose publik) untuk urusan satu ini tentu tidak akan membuat saya merasa lebih tentram menjalani hidup. Kenapa? Jelas bahwa kelakuan yang ingin saya tegur ini adalah kelakuan banyak orang, yang hanya akan membuat bibir saya memble memerah jika marah-marah ke satu per satu pelakunya.

Terlalu luasnya pelaku kelakuan ini, bahkan bisa mencapai orang satu dunia yang pastinya tidak semua menujukan kelakukan tersebut kepada saya. Tapi saya yakin, kelakuan ini membuat siapapun yang menjadi tujuan si kelakuan akan merasa kesal dan mau marah tapi terkukung dalam etika profesional dan nilai-nilai moral kedewasaan.

Lagi-lagi masalah kemajuan digital. Kemajuan ini membuat sopan-santun mental (“terpelanting”). Orang-orang jadi semakin banyak yang senang menampilkan dirinya yang “berbeda” di dunia maya. Media sosial dipenuhi dengan curahan hati tak karuan. Ocehan, omelan, makian… dan hujatan yang sebelumnya hanya milik sendiri atau kerabat yang benar-benar dekat akhirnya menjadi makanan semua orang yang bahkan belum tentu kenal.

Bocah mengoceh tentang orang tuanya yang tidak membelikan ponsel mahal (padahal ponsel itupun sama sekali belum ada fungsi yang jelas untuk perkembangan positif si bocah), remaja mengobrol dan mengobral percumbuannya (yang sebenarnya sama sekali tidak penting untuk hidup orang lain, sekalipun remaja ini motivator percintaan), istri mengeluhkan kehidupannya yang membosankan karena hanya berakhir menjadi ibu rumah tangga kesepian (padahal itu urusan dan risikonya sendiri sebagai insan yang terikat status pernikahan), sampai dengan para karyawan yang mengumpat jelas mengenai pekerjaan hariannya (yang dia pilih dengan sadar, dan sebenarnya juga dia memiliki pilihan untuk keluar dari pekerjaan bodoh itu untuk mengambil pekerjaan lain yang lebih layak).

Bukan salah dunia yang terus berkembang. Toh… perkembangan dunia ini dibuat oleh maniak bernama manusia. Otak manusia sepertinya akan teriak dan mengamuk jika tidak terus mengeksploitasi daya pikirnya. Mencipta dan terus mencipta sampai habis yang perlu dicipta. Pun yang dicipta tak akan pernah habis, karena bagaikan sebuah tesis yang selalu memiliki antitesis… segala ciptaan akan kembali mendapat lawan. Antara dihancurkan atau disempurnakan. Terus-menerus.. penciptaan akan berlari semakin cepat.. dan cepat.

Kembali pada dunia digital. Kemudahan ditawarkan agar manusia tidak perlu membuang energinya terlalu banyak dalam melakukan satu aktivitas. Maksud idealnya sih, penghematan energi ini dilakukan agar manusia bisa membagi energinya ke tempat-tempat lain sehingga manusia dapat melakukan lebih banyak hal dalam satu waktu. Hal-hal yang dilakukan juga idealnya adalah hal-hal yang produktif.

Tapi apa daya, lagi-lagi namanya manusia. Manusia memiliki sifat malas dan kebiasaan menyepelekan sesuatu. Jadilah ciptaan-ciptaan kemudahan ini beralih menjadi alat yang membuat manusia semakin memiliki energi lebih… untuk direlokasi ke tempat lain bernama “malas-malasan”… “hura-hura”, dan “euphoria”. Ciptaan membuat orang semakin malas karena segala sesuatunya menjadi lebih mudah dan lebih praktis.

Read More